Subscribe to RSS feeds

Rabu, 28 Januari 2009

7 Pertanyaan Seputar Obat Bayi

Mungkinkah obat tersisa diberikan lagi?
Obat sisa penanganan penyakit yang lalu tidak boleh digunakan untuk mengatasi gejala penyakit bayi Anda. Kadangkala, apoteker memang menyiapkan obat cair sedikit lebih banyak dari seharusnya untuk berjaga-jaga jika obat tersebut tumpah atau ditakar secara tidak tepat. Jadi, jika obat si kecil bersisa setelah proses penanganan penyakitnya berakhir, langsung buang deh saja.

Kapan bayi boleh menelan tablet?
Tablet merupakan obat kunyah yang agak keras dan lebih lama larutnya. Jadi, obat ini berpotensi membuat bayi Anda tersedak, kalau belum pintar mengunyah makanan. Kalaupun si kecil sudah makan makanan padat, gerus dulu tablet tersebut. Biar tidak terasa pahit, ‘selundupkan’ obat tadi dalam makanan. Hanya saja, tidak sembarang makanan cocok dikombinasikan dengan obat bayi Anda. Salah pilih makanan bisa mengurangi efektivitas kerja obat tersebut lho. Tanyakan hal ini pada dokter anak Anda.

Paling oke sih memberi bayi Anda obat dalam bentuk cair. Obat jenis ini lebih mudah ditelan dan ditakar sesuai dosis. Belum lagi, obat yang cair umumnya diberi perisa (flavored) oleh apoteker agar terasa lebih enak. Misalnya, rasa jeruk, apel, dan sebagainya.

Catatan: Berikan makanan dalam jumlah yang sedikit saja, serta pastikan si kecil menghabiskan seluruh makanan agar dosis obat yang harus diminumnya sesuai petunjuk dokter. Jangan sekali-kali mencampur obat dalam botol susu bayi. Kalau susu tidak habis, ini berarti anak tidak minum obat sesuai dosis.

Mungkinkah bayi diberi obat milik orang lain?
Jangan pernah memberi obat yang diresepkan untuk orang lain (entah itu obat khusus untuk orang dewasa maupun anak-anak) pada bayi Anda. Selain belum tentu bekerja secara efektif dalam tubuh bayi Anda, mungkin saja obat tersebut malah membahayakan jiwanya.

Catatan: Dua orang yang memiliki penyakit yang sama sekalipun, mungkin saja memerlukan obat yang berlainan. Kalaupun obatnya sama, dosis dan aturan minum obat bisa saja berbeda. Makanya, hanya berikan obat yang khusus diresepkan untuk si kecil plus pas untuk kondisinya.

Adakah cara mudah memberi obat pada bayi?
Umumnya, memberi obat pada bayi lebih susah, karena ia suka berontak. Makanya, posisi tubuhnya musti pas. Caranya? Pangku si kecil, lalu aturlah agar posisinya setengah duduk. Catatan: Jangan menelentangkan bayi, sebab obat bisa masuk ke paru-paru.

Khusus bayi, sebaiknya obat cair diberikan dengan pipet atau tabung. Bayi kan belum bisa menelan dari sendok! Ada triknya agar obat tadi benar-benar ditelan si kecil. Misalnya, letakkan pipet di sudut mulut bayi, lalu secara perlahan-lahan keluarkan obat. Bagaimana dengan tabung? Tuanglah obat ke dalam tabung, sesuai dosis anjuran. Taruhlah ujung tabung di bibir bawah si kecil, serta biarkan obat mengalir ke dalam mulutnya.


Apa yang harus dilakukan jika bayi memuntahkan obat?
Banyak juga bayi yang langsung muntah setelah minum obat. Asal tahu saja, usus akan menyerap sebagian besar obat dalam waktu 30-45 menit. Bila bayi langsung memuntahkan obatnya, ulangi saja pemberian obat tersebut. Khusus obat antibiotika, ulangi lagi dosisnya setelah 10 menit pemberian obat (dan dimuntahkannya).

Kadangkala, bayi terlalu sakit untuk menelan obat dan memuntahkan semuanya. Ini umum terjadi pada pemberian obat demam yang bentuknya cair, seperti acetaminophen. Kalau ini yang terjadi, si kecil bisa mendapat obat penurun demam yang dimasukkan melalui dubur. Bisa juga sih, dokter Anda meresepkan obat antimuntah (masuk melalui dubur pula) sekitar 20-30 menit sebelum pemberian obat cair. Dengan cara ini, obat si kecil bisa tetap ’bertahan’ dalam perut.

Catatan: Hubungi dokter anak Anda, bila si kecil bolak-balik muntah. Pemberian dosis obat yang terlalu sering bisa menyebabkan diare, terutama pada beberapa jenis antibiotika. Kalau sudah begini, pemberian antibiotika bisa dilakukan dengan cara disuntik.


Benarkah aspirin tidak aman bagi bayi?
Aspirin merupakan obat pereda demam yang efektif. Namun, pemberian obat ini pada bayi (terutama dengan infeksi virus) bisa menimbulkan efek samping yang serius, yakni Sindroma Reye. Diduga, sindroma ini berkaitan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mengatasi zat kimia tertentu. Gejalanya adalah muntah tak terkendali, demam, mengigau, dan tidak sadar (lalu koma). Sindroma ini memang jarang terjadi, namun termasuk penyakit yang berat dan fatal akibatnya jika tidak segera diketahui. Makanya, jangan sekali-kali memberi bayi Anda aspirin atau obat apapun yang mengandung aspirin.

Catatan: Obat yang mengandung aspirin kadangkala diberi nama lain, yaitu salicylate atau acetylslicylate. Karena itu cermatlah membaca label pada kemasan obat anak.


Manakah yang lebih baik: acetaminophen atau ibuprofen?
Sebenarnya, acetaminophen atau ibuprofen berfungsi untuk mengatasi demam dan rasa sakit. Bahkan dulunya, acetaminophen adalah obat penghilang rasa sakit (nonaspirin) yang selalu jadi pilihan pertama. Setelahnya, barulah dokter mulai meresepkan ibuprofen, sebab obat ini lebih kuat dan tahan lama.

Kedua obat ini punya efek samping. Ibuprofen bisa mengiritasi perut, jika makan anak tidak oke atau ia tidak terbiasa dengan obat tersebut. Acetaminophen tidak menimbulkan gangguan perut, namun dosis yang besar bisa menyebabkan kerusakan hati. Itulah sebabnya mengapa pabrik obat memrpoduksi acetaminophen cair khusus anak-anak dalam botol mungil.

Manakah yang lebih oke? Keduanya sama-sama ampuh kok. Yang penting, pemberian dosis obat tepat, sesuai berat badannya. Sebaiknya, berkonsultasilah dengan dokter untuk penggunaan kedua jenis obat ini.

Catatan: Khususnya bila si kecil berusia di bawah 3 bulan, Anda harus selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memberinya obat ini. Bisa jadi, pemberian obat tersebut malah akan menutupi gejala penyakit bayi Anda. Akibatnya? Dokter makin sulit mendiagnosis penyakit yang sesungguhnya. Masalahnya, si kecil gampang sekali sakit dan kondisinya bisa langsung parah.

0 comments:

Posting Komentar